Selama 6 bulan pertama, si kecil mendapatkan nutrisi dengan ASI eksklusif. Setelah itu kebutuhan nutrisi harus dipenuhi dengan bantuan Makanan Pendamping ASI (MPASI). Asupan selain ASI ini akan memberikan nutrisi lain yang dibutuhkan dan tidak bisa didapatkan dari ASI.

Pemberian MPASI untuk pertama kali tentu tidak boleh sembarangan karena MPASI bisa mempengaruhi tumbuh kembang sang buah hati. Agar si kecil tumbuh kembang dengan optimal, pastikan MPASI memenuhi 4 syarat dari WHO ini :

1. Tepat Waktu

MPASI diberikan saat ASI sudah tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi anak. Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan WHO merekomendarikan pemberian ASI selambatnya pada usia 6 bulan.

Pemberian MPASI sendiri tidak boleh terlalu cepat atau terlalu lambat. Menurut Asosiasi Dokter Anak Khusus Nutrisi dan Pencernaan Eropa (ESPGHAN), pemberian MPASI paling cepat adalah 12 minggu dan tidak lebih lambat dari usia 26 minggu (6 bulan).

Pemberian MPASI terlalu cepat beresiko menyebabkan infeksi pencernaan, alergi, dan obesitas. Sedangkan jika terlalu lambat bisa menyebabkan stunting karena kekurangan asupan gizi.

2. Adekuat

MPASI yang diberikan harus memenuhi kebutuhan nutrisi anak yang tidak bisa didapatkan dari ASI. Nutrisi yang tidak bisa didapatkan dari ASI seperti energi, protein, zat besi, dan zinc.

Semua nutrisi itu tidak bisa didapatkan dari satu jenis makanan, maka MPASI harus bervariasi agar bisa mencukupi sumber karbohidrat, protein hewani dan nabati, lemak, serta vitamin dan mineral. Berikan juga buah dan sayur dalam jumlah kecil sebagai perkenalan.

(baca : Kaldu, Penambah Rasa MPASI Kaya Nutrisi)

Pemberian MPASI dilakukan secara bertahap. Jumlah dan tekstur ditingkatkan sesuai tahapan. Jangan sampai terjadi keterlambatan pengenalan tekstur pada usia 6-9 bulan karena bisa menyebabkan masalah makan pada buah hati kelak.

3. Aman dan Higienis

Dalam menyiapakan makanan apapun tentu harus aman dan higienis, apalagi MPASI untuk anak yang lebih sensitif. Pastikan kebersihan tangan, bahan, hingga perlengkapan selalu terjaga mulai dari proses persiapan, pembuatan, hingga penyajian MPASI kepada anak.

Keamanan dan higienis MPASI yang diberikan kepada harus diperhatikan karena bisa terjadi kontaminasi mikroba yang merupakan sumber penyakit diare pada anak jika MPASI tidak aman dan higienis. Jangan sampai tujuan kita memberikan nutrisi pada buah hati justru berakibat fatal membuat anak diare karena tidak menjaga makanan aman dan higienis.

4. Beri Makan dengan Tepat

Memberikan makan pada anak tentu tidak semudah yang dibayangkan. Orang tua harus responsif yang artinya harus memberikan MPASI secara konsisten sesuai sinyal lapar dan kenyang dari anak. Pastikan juga untuk mengatur jadwal secara teratur, yaitu tiga kali makanan utama, dan dua kali makanan kecil diantara makan utama.

Saat memberikan makan juga pastikan dalam suasana yang menyenangkan. Jangan memaksa anak untuk menyantap makanannya karena bisa memberikan trauma pada anak dan menjadikannya tidak mau makan dan melakukan GTM (Gerakan Tutup Mulut).

(baca : Buah Hati Susah Makan dan GTM? Coba Tips Ini!)


Itulah syarat yang ditekankan oleh WHO agar anak mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan dalam tumbuh kembangnya. Untuk bahan yang digunakan sendiri tidak ada aturan tertentu, bisa disesuaikan agar nutrisi yang dibutuhkan terpenuhi.

(baca : Garam dan Gula Berbahaya Untuk MPASI? Ini Faktanya!)

Selain itu sebisa mungkin untuk membuat MPASI sendiri dan tidak menggunakan makanan instan. Sedangkan penggunaan gula dan garam pada MPASI terjadi perbedaan beda pendapat. Namun dikutip dari alodokter penggunaan gula garam ini ternyata aman dan dibutuhkan untuk merangsang anak makan. Kita hanya tinggal menyesuaikan dengan kebutuhan anak agar tidak melampaui batasnya.


0 Komentar

Tinggalkan Balasan

Avatar placeholder

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.